Tampilkan postingan dengan label kartun indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kartun indonesia. Tampilkan semua postingan

Kartunkan Komunitas!!!



Menurut Wikipedia Komunitas merupakan sekumpulan orang yang memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, resiko dan sejumlah kondisi lain yang serupa. Banyak Komunitas bermunculan di Indonesia , baik komunitas formal maupun informal, baik komunitas berbasis online maupun offline. Komunitas itu terbentuk karena tujuan yang sama masing-masing individu yang ada didalamnya.

Seperti yang di jelaskan di blog kami sebelumnya “Mari Mengkartunkan Indonesia” , kendala yang dihadapi para pekerja kreatif dalam mengembangkan karyanya karena tidak ada dukungan dari para pemilik modal, baik swasta maupun negeri. Kita semua pasti ingin melihat kartun Indonesia terkenal di luar negeri, tapi itu semua harus dimulai dari kita sendiri. Various Cartoon akan membuat suatu gerakan untuk mencintai kartun Indonesia dimulai dari diri kita sendiri, dimulai diri para anak muda Indonesia.

“Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh yang memiliki arti kalau kita melakukan suatu pekerjaan atau berjuang bersama-sama akan memiliki kekuatan yang lebih besar daripada melakukan sesuatu sendiri-sendiri”

Mengacu dari peribahasa tersebut kami Various Cartoon ingin mengajak berbagai komunitas di Indonesia untuk ikut mendukung perkembangan dunia kartun Indonesia. Hal tersebut tentu akan lebih mudah jika berbagai komunitas di Indonesia ikut bersatu, bersama-sama, bahu membahu untuk dunia kartun Indonesia.

Salah satu program kami “Kartunkan Komunitas” , mengajak setiap komunitas Indonesia membuat Kartun yang mencerminkan kriteria dan karakteristik komunitasnya dalam media kaos. Kartun yang di tampilkan diharapkan masih “berbau” Indonesia , bisa berupa tokoh, tradisi, budaya yang dipadukan dengan modernisasi atau karakter setiap Komunitas.

“Bhineka tunggal Ika yang berarti berbeda-beda tapi tetap satu “

Sebuah filosofi bangsa kita yang memiliki keaneragaman suku dan latar budaya, tapi dapat bersatu mengatasnamakan Indonesia. Di sini dalam lingkup yang lebih sederhana, setiap komunitas pasti memiliki latar belakang dan tujuan yang berbeda-beda, namun diharapkan kita dapat bersatu untuk Dunia Kartun Indonesia yang lebih baik. MARI MENGKARTUNKAN INDONESIA :p

Informasikan Program “Kartunkan Komunitas” bisa dilihat disini

Mari Mengkartunkan Indonesia

Indonesia memiliki peninggalan budaya dan tradisi yang sangat beraneka ragam. Indonesia juga memiliki kekayaan alam yang sangat luar biasa. Tapi taukah kalian di Negara-negara Eropa, Amerika dan Afrika nama Indonesia masih kalah mentereng daripada Malaysia, Singapura bahkan Bali.

Kita sebagai anak bangsa ga' usah nyalahin sana-sini , lagipula kita dah capek ngeliat Indonesia di jajah sama bangsanya sendiri . Kita yang berjiwa muda ini harus selalu semangat, bangkitkan rasa nasionalisme dengan cara kita sendiri. Ayo kita kenalkan Indonesia ke seluruh dunia dengan kartun.

Kenapa ko harus lewat kartun? ada contohnya nih, sewaktu masih kecil di era 90 an kita dah dicekokin kartun-kartun dari Jepang. Misalnya Doraemon, Ninja Hattori, Kobo chan, Shincan dll. Secara tidak lansung kita mengenal budaya , tradisi bahkan kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang. Hal yang sama juga dilakukan tetangga kita Malaysia dengan Upin-Ipin nya , kartun tersebut sangat digemari di Indonesia baik anak-anak maupun orang dewasa.

Sebuah penyampaian yang sederhana dan lucu , dua hal yang sangat identik dengan kartun. Dengan tawa dan canda secara tidak langsung kita dah diberikan pengetahuan akan arti kehidupan, persahabatan, cinta, hanya dengan KARTUN.

Membaca paragraph ketiga slalu bikin geretan, lalu dimana kartun karya anak Indonesia?Sebenarnya kita tuh mampu, anak muda kreatif di Indonesia bisa menciptakan kartun-kartun yang tidak kalah keren. Namun beberapa sumber mengatakan kalo anak muda kreatif kita kesulitan dana untuk mengembangkan kartun-kartun karya. Bahkan beberapa kartunis dan animator kita harus rela bekerja dan menjual karyanya di Negara lain. Bukan karena mereka tidak cinta dengan Indonesia, sebenarnya mereka mau karyanya untuk bangsa ini, tapi bagamana lagi? Di negaranya sendiri mereka justru tidak begitu dihargai. Produser-produser di Indonesia blom menganggap Kartun Indonesia sebagai bisnis yang potensial, mereka lebih memilih mengembangkan “Sinetron”.

Memulai dengan yang hal yang kecil

Big dream has to start from a small (Mimpi yang besar harus dimulai dari yang kecil). Sebuah pepatah yang pas untuk mengiringi langkah mencapai tujuan. Kita akan memulai dengan membentuk komunitas pecinta kartun Indonesia dengan media kaos. Mulai dari sekarang marilah kita bangga dengan karya-karya anak Indonesia. Kita harus bangga dengan budaya dan tradisi Indonesia, kita harus bangga dengan designer Indonesia, kita harus bangga memakai produk asli Indonesia.

Dengan brand Various Cartoon kita akan kenalkan Indonesia keseluruh dunia lewat kartun. Mari mengkartunkan Indonesia :)

variouscartoon 2011


Kartun Benny & Mice: Meledek Gaya Hidup Snob


Jakarta luar dalem? Pilihan ini sungguh menggelitik. Melihat Jakarta dari luar, apa susahnya? Bahasa candanya, nenek-nenek juga bisa. Namun, melihat Jakarta di bagian dalem? Ini sungguh pekerjaan menantang dan tidak sembarang orang mampu melakukannya.

Apalagi cara melihat yang dilakukan oleh dua kartunis Benny dan Misrad tidak sekadar menatap dengan mata melotot dan mulut “manyun”, tetapi seperti layaknya kerja para jurnalis, fotografer, dan sekaligus karikaturis.
Sebagai jurnalis, mereka mencatat berbagai gejala atau fenomena yang menonjol di isi perut Jakarta; sebagai fotografer, mereka mengabadikan secara visual obyek-obyek otentik yang terkait dengan fenomena (dipakai untuk rujukan gambar kartun); dan sebagai karikaturis, mereka harus mampu ceriwis mengusili fenomena dengan sentakan humor-humornya yang segar dan khas lewat dua tokoh kartun yang bernama Benny dan Mice.


Kerja bareng dua kartunis yang kompak dan tali-temali ini sungguh luar biasa. Setiap minggu, sejak empat tahun lalu, mereka rutin mengisi rubrik kartun bertajuk Benny & Mice di Kompas Minggu. Pilihan-pilihan tema, sudut pandang dan struktur cerita, sejauh pengamatan saya, selalu baru dan beda.

Seandainya ada pengulangan tema atau sudut pandang, itu karena alasan hangat dan kuatnya radar aktualitas atas tema-tema dan sudut pandang yang terjadi pada masa penyajian kartun. Meskipun begitu, tanggung jawab mereka untuk selalu tampil kreatif, mereka buktikan dengan tidak melakukan repetisi ide atas tema dan struktur cerita yang mereka sajikan.

Voltase gerrr
Akan tetapi, satu hal yang tak dapat dielakkan adalah fakta bahwa voltase gerrr yang muncul dari setiap tawaran/gagasan mereka, tak selalu ajek; kadang kuat, kadang lemah, jadi fluktuatif, dan sangat bergantung pada kondisi atau situasi tertentu.

Ini konsekuensi logis pilihan isinya terkait dengan masalah tren, mode, fenomena yang sedang in namun rentan perubahan. Kalau kemudian kartun-kartun yang semula disiapkan untuk sesuatu yang berbau jurnalistik, hangat, dan aktual tetap dapat “berbunyi” kendati telah melewati ruang dan waktu berbeda, itu semata karena si kartunisnya lihai dalam memilih pendekatan. Kesan fenomena yang sebenarnya temporer dan terbatas itu justru terasa seolah-olah universal. Seolah-olah melibatkan emosi publik luas.

Kekhawatiran yang acapkali terjadi ketika sebuah rubrik kartun rutin di sebuah media yang kemudian dibukukan adalah hadirnya rasa datar karena bentuk lay out, teknik penyajian, dan lain-lain, performance yang cenderung diulang-ulang, ternyata di kumpulan kartun Benny & Mice hal itu tidak terjadi.

Setidaknya, dua kartunis yang pernah menggarap seri Lagak Jakarta hingga enam judul ini sudah sangat prepared. Bahwa kartun mereka yang dimuat di Kompas, bukan tidak mungkin pada suatu saat berlanjut diterbitkan dalam bentuk buku; maka, entah sengaja atau tidak, terdapat cukup banyak varian lay out dan penyajian (khususnya proporsi gambar tokoh yang kadang tampak jauh, menengah, dan dekat-dalam istilah sinematografi: long shot, medium shot, dan close up); sehingga ketika potongan-potongan sajian ini dikumpulkan dalam bentuk buku, terjadi suasana yang tidak flat, datar, dan menjemukan. Bahkan dengan adanya pilihan tema dan pendekatan yang bervariasi dari sang kartunis, kita serasa dibawa ke rekreasi optis-dibawa bertamasya dari situasi yang sarat kekonyolan satu ke situasi yang lain.

Rela “Capek”
Kerja dua kartunis yang saya anggap luar biasa adalah kesabaran dan kemauan mereka untuk rela “capek”; mau menyajikan detail setting secara serius. Banyak kartunis kita yang suka menghindar dari sulitnya menyajikan factual set dan detail obyek di mana si tokoh berada.
Bukan tak mungkin, keberhasilan komunikasi kartun Benny & Mice di antaranya karena proses kreatifnya ditunjang oleh tradisi riset (literatur maupun on the spot terjun ke lapangan). Mereka tak asal-asalan menyajikan mesin ATM, mesin hitung kasir di toko swalayan, interior mobil yang memakai LCD TV, hingga lalu lintas yang ruwet dan terkunci.

Pilihan redaksi yang membagi bab dalam buku kumpulan kartun berdasarkan kesamaan tema, di satu hal, memang memudahkan pembaca untuk memilih dan memulai; namun risiko lainnya juga ada; yakni kemungkinan tergiringnya pembaca ke situasi yang menjebak; yakni situasi yang datar tadi.

Salah satu contoh bab tentang: Trend dan Mode. Dalam bab ini, kalau kita cermati, kita jadi menemukan “modus operandi” si kartunis dalam menyajikan gagasannya. Padahal, “modus operandi” atau rahasia resep dalam menciptakan “masakan” yang oke itu tak layak kalau sampai kecolongan pihak lain.

Kita lihat misalnya bab tentang Trend dan Mode dari halaman 2 hingga 30, nyaris si kartunis memakai jurus atawa “modus operandi” dengan menyajikan Si Benny dan Si Mice jalan-jalan, mereka lalu melihat orang-orang lagi mejeng sesuai dengan tren dan mode terbaru, pada akhirnya, arena-entah kritis atau sirik-Benny dan Mice bersikap tak mau kalah. Mereka berusaha keras untuk menjadi makhluk modis kendati untuk itu harus melakukan kekonyolan-kekonyolan.

Salah satu yang cukup menyentak adalah saat musim flash disk dikalungkan di leher, Benny dan Mice “menghantam” kegenitan itu dengan mengalungkan hardisk ke leher sendiri. Motif serupa juga tampak saat mereka mengangkat topik gigi berkawat, stiker mobil kena tembak, celana ketat bawah, tarif seluler murah, video phone, dan lain-lain.
Secara substansi ide-idenya menarik, tetapi karena berdekatan, tampak seakan sebuah repetisi.

Ada tawa ada renungan
Membaca lengkap kumpulan kartun dua kartunis ini, kita dibawa masuk ke dalam renungan-renungan. Ketawa, iya sudah pasti. Namun, tidak cukup berhenti di tawa; kartun-kartun Benny & Mice, menyeret kita untuk ikut berpikir. Tentang berpikir ini sudah tentu sesuai dengan relevansi kita masing-masing.

Gagasan-gagasan yang di-”tembak”-kan dua kartunis ini berfungsi sebagai stimulus yang akan merangsang perasaan intelektual pembacanya masuk ke dalam renungan-renungan; renungan yang sungguh berbeda dan mengasyikkan. Karena sesekali ia dapat membuat kita malu melihat diri kita sendiri.

Sikap yang ditampilkan dua tokoh kartun yang bernama Benny dan Mice itu sepertinya mewakili sikap kelompok masyarakat tertentu yang ada di Jakarta, sepertinya. Namun bisa juga tidak mewakili siapa-siapa. Namanya saja dunia ide. Karya cipta, rekaan.

Akan tetapi, bila kenyataan yang terjadi dalam proses kreatif lain, sungguh fakta ini cukup mencemaskan dan mendebarkan. Mencemaskan, kalau benar mereka ada; bagaimana mungkin, mereka adalah korban doktrin berhala kehormatan dan eksistensi yang bernama mode atau tren. Korban kasak-kusuk iklan. Bujuk rayu “kapitalisme” yang seolah dapat mengantarkan masyarakat Jakarta, atau bahkan masyarakat Indonesia, masuk ke dalam pintu gerbang eksistensi lewat aksi yang bernama membeli. Ya, membeli apa saja yang ditawarkan tanpa harus berpikir benda yang kita beli itu bermanfaat atau tidak.

Sikap tak mau kalah dua tokoh kartun ini dan jalan solusi yang dipilih untuk memberi pelajaran pada orang-orang snob seperti menggambarkan peta “pertarungan” pola pikir masyarakat kita yang sebenarnya rasional tetapi tak berdaya, melawan gempuran iklan yang tak kunjung lelah dan kapok. Pada akhirnya, iklan yang terus-menerus hadir dan dirancang sedemikian efektif adalah juga sebuah doktrin yang dapat memengaruhi, bukan saja pandangan hidup tetapi juga pilihan hidup seseorang.

Dalam kekalahan atau kemenangannya, dalam ketidakberdayaan atau keluguannya, mereka tetap berani menghadapi gempuran-gempuran yang terus-menerus meneror mereka. Benny dan Mice bukan menyerah atau menggampangkan persoalan, mereka justru tampil dengan inspirasi-inspirasinya yang tak terduga; bahkan, perkasa. Ini semboyan mereka yang tak gampang menyerah: silver bird atau bajaj. town house atau kontrakan. tuna sandwich atau taoge goreng. senang. susah.
life goes on..!

http://kartunindonesia.blogspot.com/2010/06/kartun-benny-mice-meledek-gaya-hidup.html

Mewarnai Sejarah Kartun di Indonesia

ERA 1980-1990-an disebut-sebut sebagai masa kejayaan kartun Indonesia. Itulah masa ketika kartun beroleh apresiasi yang baik dari masyarakat. Banyak kartunis lahir, banyak pameran dan lomba digelar. Media massa pun memberi ruang yang cukup bagi penampilan karya-karya kartunis Indonesia.

Kehadiran Secac turut mewarnai era yang hiruk-pikuk itu. Selain mengisi rubrik kartun di pelbagai media cetak, mereka juga kerap menggelar aneka kegiatan. Taruh misal Lomba Kartun Sumpah Pemuda se Jateng dan DIY (1983), Temu Kartunis dan Pameran Kartun Nasional (1983 dan1985), festival kartun Canda Laga Mancanegara (1988), dan Lomba Kartun Jamu Tradisonal (1990).

Dari semua kegiatan itu, Canda Laga Mancanegaralah yang paling fenomenal. Betapa tidak? Itulah festival kartun tingkat dunia pertama yang digelar di Asia Tenggara. Perhelatan tersebut melibatkan kartunis-kartunis kondang dari 37 negara, antara lain Jarolslav Dodal (Chekoslovakia), Borislav Stankovic (Yugoslavia), Carlos Raul Ortiz (Argentina), 3 Yeb (Uni Soviet), Jean Etienne Rousseau (Prancis), Wang Wei (China), Hiroshi Kasamatsu (Jepang), dan Joseph George Szabo (USA).

Kelak, Canda Laga Mancanegara tercatat di Museum Rekor Dunia Indonesia sebagai festival kartun dengan peserta terbanyak. Rekor itu baru terpecahkan oleh Pameran Kartun Internasional di Sanur, Bali pada Agustus 2008.

Dan yang membanggakan, Canda Laga Mancanegara berlangsung sukses. Padahal sebelumnya banyak suara-suara sinis yang meragukan kemampuan awak Secac. Thomas Leonard yang kemudian menjadi kartunis Suara Pembaruan misalnya bilang, adalah sebuah keajaiban kalau Semarang bisa melakukannya.

Perhelatan kartun yang diselenggarakan Secac, kata Koesnan Hoesie, seorang awak Secac, senantiasa beroleh apresiasi positif dari publik. Gedung yang digunakan kerap sesak. Bahkan pernah suatu ketika kaca Wisma Pancasila yang digunakan untuk pameran Secac pecah akibat banyaknya pengunjung.

”Pengunjung pameran kartun itu luar biasa banyaknya. Sepertinya hanya bisa disaingi oleh penonton konser Bimbo dan Koes Plus. Bahkan menurut data statistik, pameran kartun itu merupakan jenis pameran yang paling banyak ditonton masyarakat setelah pameran peninggalan Bung Karno.


Vakum Anggota Secac juga aktif mengikuti festival-festival kartun internasional. Tak sekadar partisipan, mereka juga kerap menjadi juara. Taruh misal Koesnan Hoesie, Ikhsan Dwiyono, dan Jitet Koestana. Jitet bahkan bisa disebut langganan juara. Nama lelaki kelahiran 4 Januari 1967 itu pada 1998 tercatat di Museum Rekor Dunia Indonesia sebagai peraih penghargaan internasional terbanyak, yakni 36 buah. Kini angka itu tentu jauh bertambah.

Memasuki tahun 2000-an, kartun Indonesia lesu darah. Barangkali salah satu sebabnya adalah pengurangan rubrik kartun di media cetak akibat krisis ekonomi yang dimulai sejak 1997. Kelompok-kelompok kartun yang dulu bersemangat pun mulai loyo. Demikian halnya yang dialami Secac. Yehana dan kawan-kawan mulai jarang berkegiatan. Terakhir, mereka menyelenggarakan ”Festival Kartun Semarang Tertawa” pada Juli 2005.

Meski bertahun-tahun vakum, Secac tak pernah betul-betul bubar. Setidaknya demikian pengakuan awak Secac saat dikonfirmasi. ”Secara kelembagaan Secac memang sudah tidak aktif, tapi secara spiritual ia tetap hidup. Ini soal pergeseran zaman. Kalau dulu Secac punya semangat komersial dan romantisme, kini yang tersisa hanya komersialnya saja. Jadi semangat untuk ngumpul-ngumpul seperti dulu nyaris tidak ada lagi. Terlebih kami kini punya kesibukan sendiri-sendiri,” ujar Prie GS.

Namun seandainya kelak Secac benar-benar mati, Prie tak akan menyesali. Secac, kata dia telah memberi banyak kontribusi bagi sejarah perkembangan kartun di Indonesia. (Rukardi-16)

Sumber : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/10/30/128484/Mewarnai-Sejarah-Kartun-di-Indonesia